Alat Musik Tradisional Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah adalah sebuah provinsi di pulau Sulawesi yang memiliki wilayah paling luas. Oleh karena itu, tak heran bila provinsi ini juga dihuni oleh masyarakat heterogen, baik itu yang berasal dari suku aslinya maupun suku-suku pendatang.

Suku asli masyarakat Sulawesi Tengah sendiri, nyatanya cukup banyak, yaitu sekitar 8 suku. Kedelapan suku asli tersebut yaitu suku Kaili, Pamona, Banggai, Saluan, Buol, Mori, Bungku, dan suku Balantak.

Suku-suku ini memiliki ciri khas kebudayaan masing-masing. Salah satunya dapat dilihat dari beragam instrumen alat musik yang kini telah ditetapkan sebagai alat musik tradisional Sulawesi Tengah.

Nah, di artikel kali ini kita akan membahas apa saja alat musik tradisional Sulawesi Tengah tersebut secara lengkap, mulai dari bentuk, bahan pembuatan, hingga cara memainkannya.

Bagi Anda yang ingin menambah wawasan dan khasanah pengetahuan tentang peninggalan budaya masyarakat Sulawesi Tengah masa silam, silakan ikuti artikel ini hingga selesai!

Tatali

Alat Musik Tradisional Tatali
Alat Musik Tradisional Tatali

Tatali adalah alat musik tradisional Sulawesi Tengah yang dimainkan dengan cara ditiup. Disebut-sebut, alat musik ini berasal dari budaya masyarakat suku Kaili masa silam.

Bentuk dan bahan pembuatan Tatali tidak ubahnya seperti suling yang selama ini kita kenal. Hanya saja, pada alat musik ini hanya ditemukan 4 buah lubang suara yang menjadi pengatur tinggi rendahnya nada. Berbeda dengan suling biasa yang jumlah lubang suaranya bisa mencapai 8 buah.

Karena hanya memiliki 4 buah lubang suara (nada), maka diperlukan kepiawaian dan keahlian khusus saat memainkan Tatali agar ia menghasilkan nada-nada yang harmonis.

Konon, saat ini orang yang bisa memainkan Tatali dengan sempurna hanya tinggal beberapa orang saja, itupun dari generasi yang sudah lanjut usia.

Geso-geso

Alat Musik Tradisional Geso Geso
Alat Musik Tradisional Geso Geso

Geso-geso berarti gesek-gesek. Nama ini menunjukan bagaimana alat musik ini dimainkan.

Geso-geso secara bentuk tampak seperti rebab. Ia dibuat dari bahan tempurung kelapa dan kulit binatang pada bagian resonatornya, kayu keras di bagian tangkai, serta rotan dan ijuk di bagian penggeseknya.

Dawai pada geso-geso ini hanya berjumlah 1 buah saja. Meski begitu, alat musik ini mampu menghasilkan beberapa nada dengan bunyi yang sangat khas. Tak mengherankan bila ia wajib untuk selalu ada dalam setiap pertunjukan musik daerah di Sulawesi Tengah.

Talindo

Alat Musik Tradisional Talindo
Alat Musik Tradisional Talindo

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah yang tak kalah unik selanjutnya adalah Talindo.

Ini merupakan sebuah alat musik petik yang terbuat dari 3 bahan utama; tempurung kelapa sebagai resonator, kayu sebagai pijakan senar, serta senarnya itu sendiri.

Senar pada Talindo sendiri jumlahnya hanya 1 buah. Namun, itu tak menjadi masalah karena ia tetap bisa dimainkan untuk menghasilkan beberapa macam nada.

Di beberapa daerah di Sulawesi Tengah, Talindo kerap pula disebut dengan nama Popondi. Ia biasa dimainkan oleh para pemuda dalam pertunjukan pesta panen pada masa silam.

Santu

Alat Musik Tradisional Santu Sulawesi Tengah
Alat Musik Tradisional Santu

Santu adalah alat musik tradisional Sulawesi Tengah yang dimainkan dengan cara dipetik.

Alat musik ini dikenal oleh banyak suku lainnya di Sulawesi meski dengan nama yang berbeda, misalnya dalam budaya suku Mandar di Sulawesi Barat yang lebih dikenal dengan nama Sattung.

Santu dibuat dari bahan ruas bambu yang kering dan panjang. Bambu ini kemudian disayat kulitnya dan kemudian sayatan kulit tersebut digunakan sebagai senar. Beberapa lubang dibuat pada ruas bambu agar jalan masuknya bunyi dari senar yang dipetik. Selain itu, terdapat pula kelengkapan berupa grip dan penahan senar sebagai bagian wajib dari alat musik ini.

Santu dahulunya dimainkan sebagai sarana hiburan pelepas lelah. Namun, sekarang ia lebih banyak dimainkan sebagai pengiring dalam pertunjukan musik adat daerah.

Paree

Alat Musik Tradisional Paree
Alat Musik Tradisional Paree

Paree adalah instrumen musik tradisional Sulawesi tengah yang dimainkan dengan cara dipukul.

Bentuknya hampir sama dengan alat musik Gongga Lima yang ada dalam budaya suku Mandar di Sulawesi Barat. Ia dibuat dari bambu yang dibelah 4, tapi tidak sampai ruas. Dua bilah bambu dibiarkan ada dan justru diruncingkan, sementara 2 bilah lainnya dibuang.

Pada alat musik ini dilengkapi pula dengan lubang resonator. Saat memainkannya, alat musik ini dipukul dan lubang tersebut dibuka-tutup untuk mengatur bunyi yang dihasilkannya.

Paree dahulunya dimainkan dalam pertunjukan pesta panen. Namun, kini ia lebih sering dimainkan hanya dalam pertunjukan musik daerah.

Lalove

Alat Musik Tradisional Lalove
Alat Musik Tradisional Lalove

Lalove adalah alat musik tradisional Sulawesi Tengah khas suku Kaili. Instrumen yang dimainkan dengan cara ditiup ini tampak seperti suling dengan 6 buah lubang udara sebagai pengatur tinggi rendahnya nada.

Lalove disebut-sebut sebagai salah satu alat musik yang sakral. Ia hanya dimainkan pada acara-acara tertentu saja karena dianggap mampu menjadi sarana untuk mengundang arwah leluhur.

Sebagai contoh adalah pada upacara Balia atau upacara penyembuhan penyakit bagi masyarakat suku Kaili. Lalove kerap dimainkan oleh seorang tetua adat (dukun).

Kanda

Alat Musik Tradisional Kanda

Kanda adalah kendang atau gendang khas Sulawesi Tengah. Bentuknya nyaris seperti kendang pada umumnya, namun ukurannya cenderung lebih ramping.

Instrumen tradisional ini dibuat dari bahan kayu berongga yang dilapisi kulit lembu di kedua sisinya. Kulit lembu direntangkan dan dipasak menggunakan pasak kayu untuk membuatnya kencang dan menghasilkan suara yang nyaring ketika di tabuh.

Kanda dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh. Bunyi yang dihasilkan tergantung dari teknik tabuh yang dipakai pemainnya. Ia umumnya digunakan sebagai alat musik pengiring yang menjadi pengatur ritme dari pertunjukan musik tradisional di Sulawesi Tengah.

Gimba

Alat Musik Tradisional Gimba
Alat Musik Tradisional Gimba

Kanda yang berukuran lebih besar disebut gimba. Alat musik yang juga dimainkan dengan cara dipukul ini difungsikan sebagai alat pemberitahuan bagi warga. Ketika gimba ditabuh kencang dan tak henti, maka itu adalah isyarat adanya bencana alam atau isyarat adanya salah satu warga kampung yang meninggal dunia.

Gimba juga dapat dimainkan dalam pertunjukan tari atau upacara adat sebagai alat musik pengiring, misalnya pada upacara Balia atau pada pertunjukan seni pencak silat daerah. Namun, masyarakat di Sulawesi Tengah percaya, jika alat musik ini dimainkan bersama dengan suling lalove, maka para pesilat yang berpentas disebut akan banyak yang kesurupan. Pasalnya, tabuhan gimba dan bunyi suling lalove ini dipercaya sebagai panggilan bagi arwah para leluhur.

Yori

Alat Musik Tradisional Yori
Alat Musik Tradisional Yori

Alat musik tradisional Sulawesi Tengah selanjutnya bernama Yori. Ini adalah alat musik tiup yang dibuat dari bahan sederhana, yaitu pelepah enau dan tali dari kulit kayu.

Dulunya, alat musik ini dimainkan oleh para pria selepas bekerja di ladang sebagai sarana hiburan. Bunyi yang dihasilkannya tidak cukup keras,kurang lebih hanya bisa didengar pada jarak 3 sd 5 meter dari pemainnya. Meski begitu, bunyi dari alat musik ini bisa dibilang merdu dan mampu menentramkan hati.

Sekarang, alat musik yori sudah semakin sulit ditemukan. Pun, orang yang mampu memainkannya dengan baik juga semakin terbatas. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dari para generasi muda untuk ikut melesarikan keberadaan alat musik ini agar tidak punah digerus zaman.

Kakula

Alat Musik Tradisional Kakula
Alat Musik Tradisional Kakula

Kakula adalah alat musik tradisional Sulawesi Tengah yang tak ubahnya seperti bonangnya orang Jawa. Ia terbuat dari bahan tembaga yang dibentuk sedemikian rupa seperti gong kecil.

Seperangkat kakula memiliki ukuran yang berbeda-beda. Semakin besar ukurannya, maka akan semakin rendah nada yang dihasilkan ketika dipukul menggunakan pemukul kayu.

Nah, demikianlah beberapa alat musik tradisional Sulawesi Barat yang bisa kami sampaikan. Semoga dengan disertai gambar, keterangan, dan penjelasan cara memainkannya, Anda bisa memahami semua instrumen di atas dan bisa ikut melestarikannya. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar